Sunday, January 14, 2018

Budaya Tayub Mitos Magis dan Kesakralan Ledek Tayub

Mitos tayub dan kesakralannya

Siapa yang ngak kenal dengan suatu tari budaya yang berasal dari jawa ini dan saat ini kalau penulis rasa budaya tayub ini seperti mau hilang di telan bumi jangankan mentas para pemainnya pun sudah sulit untuk membentuk generasi penerus budaya ini sehingga butuh perhatian khusus pemerintah untuk melestarikan budaya ini dan harus betul-betul mendapat perhatian yang nyata Kalau belum tahu Apa itu Tayub dan Nayub baca DISINI

Sekarang pada kesempatan yang bagus ini kita akan membahas tentang kisah Mitos magis tayub dan kesakralannya. Menurut lauis leahy mendefinisikan kata mitos adalah suatu kisah kuno yang menceritakan apa yang mungkin terjadi pada asal mula bumi, atau menceritakan apa yng mungkin terjadi pada akhir jaman kalau kita tafsirkan menurut bunyi tulisannya dan menurut arti harafiah maka mitos itu mengandung kebenaran histori atau cerita mungkin bisa disebut kisah nyata

Dalam hal ini mitos magis yang berkembang di masyarakat tentang seni budaya tayub dan ledeknya merupakan kepercayaan kuno yang secara turun-temurun dan dipengaruhi kepercayaan asli dan tayub merupakan pengenjawantahan para roh nenek moyang yang hadir dalam pesta anak keturunannya seperti yang dikatakan Lesmonodewo Poerbokoesumo bahwa gembyong itu pada jaman majapahit, jaman raja hayam wuruk merupakan seni yang bernilai tinggi dan sangat terhormat

Lebih lanjut lagi beliau menuliskan tentang kesucian dan kehormatan tari tayub sebagaimana dikutip oleh prof. dr. Sarpan "Tari Gambyang pada masa aslinya tergolong tarian yang murni dan suci" saat tarian tersebut masih sebagai tarian upacara guna menghormati dewa-dewa dan pada masa tersebut tarian gambyang hanya dilakukan beberapa penari wanita yang dilukiskan dan sajian dilakukan dalam tempat tempat pemujaan seperti peribadatan

Memang tidak bisa kita pungkiri bahwa lain dulu lain pula sekarang seperti tayub yang dulu bukanlah tayub sekarang dan pendapat tersebut juga tidak sepenuhnya dijamin kebenarannya sebab dalam fenomena sehari-hari terlepas dari stereotip negatif dari pemikiran masyarakat itu sendiri yang menganggap kemagisan tayub

Dalam penelitian Ben Suharto beliau menuliskan di Monosari Gunung Kidul masih mengakar kuat kemagisan tayub ini kemudian ia juga menuliskan Nyi Sayem tengah berdandan, ia membuka bedak pupur kemudian mencolek-colekkan ke wajahnya dan ditengah kesibukannya berdandan datang Mbok Narto menyambar anaknya yang baru dua tahun sambil berteriak kegirangan lalu anaknya langsung di ciumkan ledek (Nyi Sayem) hal ini dilakukan agar anaknya sehat, tidak rewel, tidak nakal, pintar, dan sebagainya mbok narto tidak peduli anaknya belepotan bedak atau gincu justru malah menyenangkan hatinya

Secara akal hal tersebut jelas-jelas tidak masuk di akal tapi secara magis mereka percaya bahwa cara mendapatkan berkah ada bermacam-macam dan seorang ledek dianggap mempunyai berkah yang dapat merubah prilaku anak . hal tersebut tidak hanya dilakukan mbok narto saja tapi di daerah-daerah lain juga melakukan hal yang sama

Memang hal tersebut unik dimana di jaman yang era modern dan canggih seperti sekarang tetapi hal yang berbau magis tetap masih mengakar dalam masyarakat di beberapa daerah kemudian apa hal tersebut juga masih di percaya dan dilakukan didaerah sahabat kalau iya tuliskan di kolom komentar
Previous Post
Next Post

0 comments: